Selama 12 tahun saya menjalani pendidikan sebagai pelajar, berbagai mata pelajaran silih berganti mengisi hari-hari yang penuh dengan beban kurikulum gonta-ganti. Olahraga, seni music, ekonomi, bahasa Inggris, atau IPS adalah beberapa mata pelajaran yang menjadi favorit teman-teman saya dari SD hingga SMA.
‘Agrita suka pelajaran apa?’ tanpa ragu saya akan menjawab ‘Bahasa Indonesia’. Kesulitan akan bahasa baku dan kekakuan murid karena tidak terbiasa belajar bahasa formal menjadi alasan mengapa Bahasa Indonesia kurang digemari oleh pelajar. Awal kelas 1 SMP merupakan awal obsesi saya untuk serius tekun belajar Bahasa Indonesia, walaupun nilai saya tidak menonjol di kelas. Nilai buruk juga menjadi lika-liku saya dalam menekuni mata pelajaran ini. Berbagai macam guru Bahasa Indonesia menjadi warna dalam kualitas sumber daya mereka sebagai pendidik.
Pengajar yang paling berkesan adalah tentor Bahasa Indonesia di bimbingan belajar tempat saya menimba ilmu tambahan karena murid malas macam saya butuh waktu khusus untuk persiapan kelulusan SMA dan SMPB. Mas Oskar, pria ekspresif lulusan FIB UGM jurusan Bahasa Indonesia yang menekuni bidang linguistic adalah pemicu saya untuk konsisten mencintai bahasa identitas bangsa. Dia adalah orang yang paling mendukung saya untuk meraih obsesi saya selama 6 tahun, Sastra Indonesia.
Dua tahun saya mencoba mengikuti SPMB dengan pilihan pertama Sastra Indonesia UI, namun keduanya selalu lolos di pilihan kedua yang nilainya tipis sekali dengan jurusan favorit saya itu. Namun di tahun 2008 ini, saya puas dengan jurusan Filsafat UI yang kini menjadi pilihan terakhir saya. Kegagalan meraih obsesi bukan penghalang untuk terus mencari tahu keeksotisan Bahasa Indonesia yang terus menjadi candu.
Menulis adalah bentuk cara belajar Bahasa Indonesia yang cukup efektif bagi saya. Sejak kelas 3 SD hingga saat ini, saya terus nekat untuk menjalankan rutinitas ‘metode belajar’ alakadarnya. Membaca menjadi patokan utama kualitas hasil karya tulis seseorang. Tak terkecuali tugas, paper, ataupun makalah ilmiah menjadi objek penilaian sejauh mana pengetahuan dan bacaan apa yang mendominasi karya-karyanya.
Tersentil makna tersirat saat nilai B- menjadi nilai awal cerita pendek saya dalam mata kuliah Penulisan Populer saat saya menjalani pendidikan D3 di UI yang saya tinggalkan karena factor ketidaknyaman pada bahasa asing yang saya tekuni saat itu. ‘Mana hasil belajar Bahasa Indonesiamu?’ pertanyaan itu menggaung dalam benak saya dan memaksa saya untuk memangkas rasa malas yang mulai merambat ke seluruh pikiran saya. Evaluasi dari guru, dosen, dan teman-teman saya merupakan bentuk apresiasi mereka yang tidak ternilai harganya bagi saya. Entah mereka suka atau hanya sekedar tidak enak hati karena saya mintai opini. Buat saya itu tak jadi masalah. Mereka hebat!
Kosakata yang monoton, imajinasi yang terbatas, kurang baca, dan minimnya kemahiran dalam teknis penulisan menjadi masalah paling utama dalam seluruh tulisan yang saya buat. Ketakutan akan masalah ketidak orisinilan menjadi momok yang menganga. Satu karya tulis saya, tanpa saya pernah ketahui serupa dengan cerpen karya penulis yang saya kagumi, Djenar Maesa Ayu dalam buku ‘Jangan main-main (dengan Kelaminmu)’ padahal saya tidak pernah membaca karya itu sebelumnya dan saya cukup kecewa karena kehilangan satu ide yang saya kira cukup orisinil ternyata daya baca saya kurang sehingga tidak sempat tahu ada karya serupa milik seorang Djenar yang tenar.
Kesadaran akan terkikisnya budaya dan bahasa yang menjadi identitas bangsa memprihatinkan eksistensi karya sastra Indonesia. Saya buta sastra, jauh sekali menjangkau kualitas karya tulis yang sempurna . Baiklah, saya akan mencari sumber ilmu yang akan memperkaya wacana. Apatis terhadap Bahasa Indonesia bukan suatu kesalahan, namun pilihan. Saya pun memiliki pilihan.
Menerbitkan sebuah buku merupakan salah satu impian saya yang belum sempat terwujud. Entah kapan, tapi saya yakin satu hari nanti akan muncul karya sastra dengan nama saya di sampul buku. Entah kumpulan prosa atau cerita pendek sederhana. Semoga saja.
Jumat, 19 Desember 2008
Senin, 08 Desember 2008
puzzle : Teman
Pertemanan merupakan sesuatu yang paling unik dalam lika-liku hidup saya. Banyak cerita yang dapat saya jadikan inspirasi dalam bentuk tulisan, walaupun kejadian itu tidak saya alami langsung. Seperti cerita tentang keluarga ataupun kisah cinta yang rumit dan itu benar-benar terasa nyata – selebihnya saya hanya melihat di acara drama stripping televisi- karena saya melihat langsung saksi hidup yang notebene adalah teman-teman saya sendiri.
Salah satu kisah yang sangat membekas di memori otak saya yang belum terisi banyak ini adalah kisah tentang keluarga teman saya sedari kecil yang kini masih berhubungan baik dengan saya. Sewaktu kecilnya dia sangat bahagia dengan keluarga yang memberikan kebebasan terhadapnya, hingga suatu hari entah darimana sebab musababnya, ibunya yang begitu mencurahkan kasih sayang berubah total menjadi sosok mengerikan yang sangat dia benci. Temprament, kasar, dan ringan tangan. Tiada hari tanpa pertengkaran yang sengit antara ibu dan anak ini hingga keadaan teman saya sangat tertekan dan membenci keadaan yang sangat tidak bersahabat dengannya. Kejadian itu berlangsung cukup lama sehingga membentuk kepribadian teman saya tersebut. Kini dia menjadi mandiri dan dapat dikatakan ‘tahan banting’ dari tekanan-tekanan yang ada di sekitarnya.
Ada juga kisah cinta teman saya yang mengarah kedalam kisah percintaan yang menutup mata alias kelewat buta. Bagaimana tidak, dia berhubungan dengan seorang laki-laki yang tidak mau memberikan kepastian status –disini yang saya maksud adalah status pacar- namun teman saya ini mencurahkan seluruh kasih sayang atau lebih tepatnya ‘mengguyur’ kasih sayang yang berlebihan. Hingga sampai saat ini saya terus bertanya-tanya, itu cinta atau manipulasi rasa karena kebutuhan kasih sayang yang berlebih? Teman saya ini bukan kali pertama menjalin hubungan dengan lawan jenisnya, tapi dia baru merasakan rasa sayang yang sesungguhnya dengan lelaki ini karena yang dia rasakan kemarin hanyalah sayang material tanpa dia rasakan kasih sayang yang nyata. Entah bagaimana jalan pikirannya namun saya masih menganggap itu adalah sesuatu yang manusiawi. Mungkin saja saya dapat mengalami hal yang serupa, siapa yang tahu?
Berbagai macam cerita saya dengar dari keluh kesah teman-teman saya. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari cerita-cerita mereka. Cerita pendopo saat malam keakraban pada bulan Oktober lalu adalah satu momentum yang paling berharga yang saya dapatkan selama 19 tahun saya mengumpulkan bongkahan puzzle. 14 cerita yang paling sensitif terungkap pada malam hari itu, ditambah dengan cerita dari sang pemandu acara yang juga mebuka tabir kehidupannya ternyata tak kalah membuat saya terkejut.
Acara itu bernama ‘surat terakhir’, para peserta diberi sugesti bahwa malam itu adalah malam terakhir kami berkumpul karena akan pergi bertempur. Karena dalam pertempuran kemungkinan kita hidup sangatlah kecil, maka kita diberikan kesempatan untuk menulis surat kepada orang-orang terpenting dalam hidup kita termasuk pesan terakhir jika kita mati dalam perang.
Malam itu, satu per satu peserta disorot lampu senter dari handphone pemandu acara dan mulai merancang untuk siapa surat itu dikirimkan beserta isi suratnya. Luapan emosi tumpah ruah didalam pendopo 3x2 meter, satu senior sebagai pembawa acara, 3 perempuan dan 13 laki-laki. Udara dingin dan kabut makin menusuk-nusuk perasaan tiap peserta yang bercerita tentang latar belakang hidupnya masing-masing. Di situlah, saya melihat realita yang membelah-belah perasaan saya, dari mulut teman-teman saya yang kerap kali terlihat ceria ternyata menyimpan segudang masa silam yang mencengangkan karena jika saya berada dalam posisi seperti mereka, belum tentu saya dapat menghadapi dengan sikap yang non-gegabah.
Air mata menjadi salah satu bagian yang paling saya ingat. Banyak sekali tetesan air mata didalam setiap cerita, tak terkecuali saya. Karena saya termasuk orang yang cengeng tapi benci untuk menangis. Namun, dalam situasi mendesak seperti itu saya pun tak punya pilihan lain. Menangis. Semua mendengar dan merasa. Itu malam yang luar biasa.
Selain mereka yang sering bercerita, saya juga termasuk orang yang senang berbagi pengalaman dengan teman-teman saya. Tanggapan yang mereka berikan juga beragam. Dari beberapa tanggapan mereka, ada yang berkesan dalam memori otak saya sehingga saya berikannya ruang yang cukup dalam puzzle pertemanan saya.
Saya memiliki teman yang hampir 5 bulan ini saya kenal, belum cukup dekat namun banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari anak remaja yang belum masuk usia yang cukup dewasa tapi mampu untuk mengatasi berbagai masalah hidup. Mulai dari biaya kuliah yang dia biayai sendiri dari usaha minimalis yang dia rintis, dan berbagai mimpi yang gigih dia perjuangkan. Acap kali saya mengeluh tentang satu atau dua masalah. Dengan tenang, dia hanya berpendapat.
“Buat apa lo pikirin orang-orang yang ga perduli sama lo? Gue cuma mau perduli sama orang-orang yang perduli sama gue. Jangan pernah sedih, lebih banyak banyak orang-orang yang peduli sama lo ketimbang yang nggak.”
Atau menanggapi sebuah cerita yang tak pernah saya ceritakan secara gamblang.
“Lo ga akan pernah tau gimana cara keluarga memperlakukan lo sebagai bagian dari mereka. Ga perlu banyak cara buat mengungkapkan klo mereka sayang, klo mereka perduli. Kita ga akan pernah tau.”
Kata-kata itu keluar dari seorang teman yang pasti memiliki beban hidup yang jauh lebih rumit dari yang saya hadapi. Tapi dia dapat melewati dengan proses yang dia yakini sendiri. Dari anak muda seceria dia, tenyata dia mampu . Saya merasa kecil sekaligus malu. Bagaimana bisa saya mengeluh padahal di luar sana banyak orang-orang yang tiga hingga lima kali lipat memiliki beban yang lebih besar dengan usia yang seumur dengan saya. Terbukti bahwa saya masih jauh dari kualitas dewasa padahal tahun depan usia saya memasuki usia kepala dua.
Banyak sekali pengalaman yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian saya. Saya tahu arti kekompakan setelah melewati masa pelatihan dan pementasan teater angkatan. Saya tahu arti sahabat setelah bertemu dengan satu lelaki yang hingga kini saya anggap sebagai saudara terdekat, satu perempuan setengah laki-laki yang mulai kembali ke kodratnya lagi dan beberapa perempuan yang selalu saya cium pipinya saat pamit pulang. Saya belajar menghilangkan pikiran negatif karena hanya akan memerkosa kenyamanan saya setelah bertemu dengan perempuan mungil yang paling khawatir dengan ketombe. Saya belajar arti sisi menyimpang dalam pribadi yang sangat nyaman padahal saya baru mengenal perempuan yang berbulu kuning dalam cerita kartun ini belum lama, tapi saya merasa dia memberi banyak pengaruh baik dalam diri saya akhir-akhir ini setelah banyak bertukar cerita hingga larut malam. Atau banyak pelajaran yang saya dapat dari seorang teman yang dapat membuat saya kembali kepada perpustakaan dan buku-buku, saya akan membuatkan bab sendiri tentangnya karena dia layak mendapatkan satu puzzle utuh karena pengaruhnya cukup besar dalam dunia baru saya.
Dunia baru yang mulai saya bangun adalah ruang yang berisi hasil-hasil pembelajaran yang masih kasar dan terlihat melompong karena belum ada properti atau hiasan pemanis. Masih banyak yang perlu saya kerjakan untuk mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya. Dunia yang bisa penuh jika saya rajin membaca dan mau belajar dari kesalahan
Salah satu kisah yang sangat membekas di memori otak saya yang belum terisi banyak ini adalah kisah tentang keluarga teman saya sedari kecil yang kini masih berhubungan baik dengan saya. Sewaktu kecilnya dia sangat bahagia dengan keluarga yang memberikan kebebasan terhadapnya, hingga suatu hari entah darimana sebab musababnya, ibunya yang begitu mencurahkan kasih sayang berubah total menjadi sosok mengerikan yang sangat dia benci. Temprament, kasar, dan ringan tangan. Tiada hari tanpa pertengkaran yang sengit antara ibu dan anak ini hingga keadaan teman saya sangat tertekan dan membenci keadaan yang sangat tidak bersahabat dengannya. Kejadian itu berlangsung cukup lama sehingga membentuk kepribadian teman saya tersebut. Kini dia menjadi mandiri dan dapat dikatakan ‘tahan banting’ dari tekanan-tekanan yang ada di sekitarnya.
Ada juga kisah cinta teman saya yang mengarah kedalam kisah percintaan yang menutup mata alias kelewat buta. Bagaimana tidak, dia berhubungan dengan seorang laki-laki yang tidak mau memberikan kepastian status –disini yang saya maksud adalah status pacar- namun teman saya ini mencurahkan seluruh kasih sayang atau lebih tepatnya ‘mengguyur’ kasih sayang yang berlebihan. Hingga sampai saat ini saya terus bertanya-tanya, itu cinta atau manipulasi rasa karena kebutuhan kasih sayang yang berlebih? Teman saya ini bukan kali pertama menjalin hubungan dengan lawan jenisnya, tapi dia baru merasakan rasa sayang yang sesungguhnya dengan lelaki ini karena yang dia rasakan kemarin hanyalah sayang material tanpa dia rasakan kasih sayang yang nyata. Entah bagaimana jalan pikirannya namun saya masih menganggap itu adalah sesuatu yang manusiawi. Mungkin saja saya dapat mengalami hal yang serupa, siapa yang tahu?
Berbagai macam cerita saya dengar dari keluh kesah teman-teman saya. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari cerita-cerita mereka. Cerita pendopo saat malam keakraban pada bulan Oktober lalu adalah satu momentum yang paling berharga yang saya dapatkan selama 19 tahun saya mengumpulkan bongkahan puzzle. 14 cerita yang paling sensitif terungkap pada malam hari itu, ditambah dengan cerita dari sang pemandu acara yang juga mebuka tabir kehidupannya ternyata tak kalah membuat saya terkejut.
Acara itu bernama ‘surat terakhir’, para peserta diberi sugesti bahwa malam itu adalah malam terakhir kami berkumpul karena akan pergi bertempur. Karena dalam pertempuran kemungkinan kita hidup sangatlah kecil, maka kita diberikan kesempatan untuk menulis surat kepada orang-orang terpenting dalam hidup kita termasuk pesan terakhir jika kita mati dalam perang.
Malam itu, satu per satu peserta disorot lampu senter dari handphone pemandu acara dan mulai merancang untuk siapa surat itu dikirimkan beserta isi suratnya. Luapan emosi tumpah ruah didalam pendopo 3x2 meter, satu senior sebagai pembawa acara, 3 perempuan dan 13 laki-laki. Udara dingin dan kabut makin menusuk-nusuk perasaan tiap peserta yang bercerita tentang latar belakang hidupnya masing-masing. Di situlah, saya melihat realita yang membelah-belah perasaan saya, dari mulut teman-teman saya yang kerap kali terlihat ceria ternyata menyimpan segudang masa silam yang mencengangkan karena jika saya berada dalam posisi seperti mereka, belum tentu saya dapat menghadapi dengan sikap yang non-gegabah.
Air mata menjadi salah satu bagian yang paling saya ingat. Banyak sekali tetesan air mata didalam setiap cerita, tak terkecuali saya. Karena saya termasuk orang yang cengeng tapi benci untuk menangis. Namun, dalam situasi mendesak seperti itu saya pun tak punya pilihan lain. Menangis. Semua mendengar dan merasa. Itu malam yang luar biasa.
Selain mereka yang sering bercerita, saya juga termasuk orang yang senang berbagi pengalaman dengan teman-teman saya. Tanggapan yang mereka berikan juga beragam. Dari beberapa tanggapan mereka, ada yang berkesan dalam memori otak saya sehingga saya berikannya ruang yang cukup dalam puzzle pertemanan saya.
Saya memiliki teman yang hampir 5 bulan ini saya kenal, belum cukup dekat namun banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari anak remaja yang belum masuk usia yang cukup dewasa tapi mampu untuk mengatasi berbagai masalah hidup. Mulai dari biaya kuliah yang dia biayai sendiri dari usaha minimalis yang dia rintis, dan berbagai mimpi yang gigih dia perjuangkan. Acap kali saya mengeluh tentang satu atau dua masalah. Dengan tenang, dia hanya berpendapat.
“Buat apa lo pikirin orang-orang yang ga perduli sama lo? Gue cuma mau perduli sama orang-orang yang perduli sama gue. Jangan pernah sedih, lebih banyak banyak orang-orang yang peduli sama lo ketimbang yang nggak.”
Atau menanggapi sebuah cerita yang tak pernah saya ceritakan secara gamblang.
“Lo ga akan pernah tau gimana cara keluarga memperlakukan lo sebagai bagian dari mereka. Ga perlu banyak cara buat mengungkapkan klo mereka sayang, klo mereka perduli. Kita ga akan pernah tau.”
Kata-kata itu keluar dari seorang teman yang pasti memiliki beban hidup yang jauh lebih rumit dari yang saya hadapi. Tapi dia dapat melewati dengan proses yang dia yakini sendiri. Dari anak muda seceria dia, tenyata dia mampu . Saya merasa kecil sekaligus malu. Bagaimana bisa saya mengeluh padahal di luar sana banyak orang-orang yang tiga hingga lima kali lipat memiliki beban yang lebih besar dengan usia yang seumur dengan saya. Terbukti bahwa saya masih jauh dari kualitas dewasa padahal tahun depan usia saya memasuki usia kepala dua.
Banyak sekali pengalaman yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian saya. Saya tahu arti kekompakan setelah melewati masa pelatihan dan pementasan teater angkatan. Saya tahu arti sahabat setelah bertemu dengan satu lelaki yang hingga kini saya anggap sebagai saudara terdekat, satu perempuan setengah laki-laki yang mulai kembali ke kodratnya lagi dan beberapa perempuan yang selalu saya cium pipinya saat pamit pulang. Saya belajar menghilangkan pikiran negatif karena hanya akan memerkosa kenyamanan saya setelah bertemu dengan perempuan mungil yang paling khawatir dengan ketombe. Saya belajar arti sisi menyimpang dalam pribadi yang sangat nyaman padahal saya baru mengenal perempuan yang berbulu kuning dalam cerita kartun ini belum lama, tapi saya merasa dia memberi banyak pengaruh baik dalam diri saya akhir-akhir ini setelah banyak bertukar cerita hingga larut malam. Atau banyak pelajaran yang saya dapat dari seorang teman yang dapat membuat saya kembali kepada perpustakaan dan buku-buku, saya akan membuatkan bab sendiri tentangnya karena dia layak mendapatkan satu puzzle utuh karena pengaruhnya cukup besar dalam dunia baru saya.
Dunia baru yang mulai saya bangun adalah ruang yang berisi hasil-hasil pembelajaran yang masih kasar dan terlihat melompong karena belum ada properti atau hiasan pemanis. Masih banyak yang perlu saya kerjakan untuk mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya. Dunia yang bisa penuh jika saya rajin membaca dan mau belajar dari kesalahan
Jumat, 28 November 2008
lompatan awal
ketidakperdulian terhadap tulisan-tulisan saya yang terus saya kumpulkan tapi lama-lama menumpuk dan menghilang karena terselip-selip entah kemana, membuat saya merasa memerlukan blog untuk menyimpan tulisan-tulisan yang masih tersisa.
karena sepertinya kebodohan saya dalam menyimpan arsip dan dokumentasi, mungkin bisa tersusun rapih disini ^^
*ciao!
karena sepertinya kebodohan saya dalam menyimpan arsip dan dokumentasi, mungkin bisa tersusun rapih disini ^^
*ciao!
Langgan:
Entri (Atom)
